Sebanyak 5926 Textbook ditemukan

Menyinari Kehidupan dengan Cahaya Al-Quran

Cahaya Al-Quran, begitulah tema besar yang ditulis dalam kaver buku sederhana ini. Meskipun secara kewahyuan teks ayatnya tidak lagi bertambah, mesti diakui bahwa sinyal nilai-nilai universal Al-Quran melalui konteks akan terus ditemukan di mana pun dan dinikmati oleh siapa pun, baik yang mengimaninya dan tidak mengimaninya, layaknya matahari yang tidak pernah berhenti memberikan cahayanya di belahan bumi mana pun. Buku ini mengajak pembaca untuk menyelami nilai-nilai terpendam yang ada di dalam Al-Quran dan memberikan wawasan lebih luas bagi Anda yang ingin merealisasikan cita-cita hidup berlandaskan nilai-nilai universal Al-Quran. Ditulis dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami, buku ini merupakan tema yang sangat dibutuhkan untuk menjawab isu-isu multidimensional kehidupan. Di bab terakhir penulis juga menyisipkan pemikiran-pemikiran dan tafsir pancasila dari Buya Hamka. Selamat membaca!

Akmal Rizki Gunawan Hasibuan. Muhammad: Cahaya. Purnama. Kekasih. Tuhan. Seluruh alam berkesimpulan bahwa Muhammad saw., adalah manusia yang luar biasa. Meskipun demikian, perlu diketahui bahwa beliau adalah sosok ... Purnama Kekasih Tuhan.

Al-Syatibi

... alamiah benda itu sendiri.158 Al - Jâhizh juga berpendapat bahwa tiap - tiap benda mempunyai sifat alamiahnya masing - masing.159 Sifat alamiah yang merupakan sunatullah itu tidak berubah - ubah sebagaimana firman Allah SWT : 53 وَلَنْ ...

Otoritas Hadis-Hadis `Bermasalah` dalam Shahih Al-Bukhari

Buku ini membuktikan bahwa problematika otoritas hadis berakar pada pemahaman literal terhadap matan hadis. Berdasarkan analisis mendalam terhadap hadis-hadis (yang dianggap) bermasalah yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari, penulis melihat bahwa stigma negatif terhadap matan hadis yang bermasalah (musykil) atau yang dianggap bertentangan dengan perkembangan zaman, sesungguhnya dapat direduksi dengan memahami hadis tersebut secara kontekstual dan komprehensif. Buku ini menolak paradigma yang menyatakan bahwa problematika otoritas hadis berakar pada matan hadis yang tidak rasional dan tidak relevan dengan konteks kekinian. Secara bersamaan buku ini mendukung paradigma yang menyatakan bahwa krisis otoritas hadis sesungguhnya tidak disebabkan oleh matan hadis yang tidak rasional dan tidak relevan dengan konteks kekinian, melainkan karena ketidakmampuan kita untuk memahaminya secara benar sehingga mendiskreditkan kesahihannya. Untuk membuktikan eksistesi otoritas hadis dan menghindari stigma negatif terhadap hadis-hadis musykil, penulis menawarkan metode baru dalam mengkaji hadis yang penulis sebut dengan “takhrij kontekstual”. Metode ini merupakan usaha reaktualisasi metode penelitian hadis dengan menyinergikan antara metode takhrij hadis (konvensional) dengan pemahaman matan hadis yang kontekstual dan komprehensif. Sehingga dapat menghasilkan suatu pemahaman hadis yang aktual namun tetap mengakar pada tradisi kajian hadis terdahulu.

... alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Lihat: Lexy J. Maleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Rosdakarya, 2008), 6. Dikutip oleh Agus Salim, Teori & Paradigma Penelitian Sosial (Yogyakarta: Tiara Wacana ...

AL-UMM #2: Kitab Induk Fiqih Islam

Tidaklah berlebihan bila Imam Syafi’i menamai kitabnya Al-‘Um, yang berarti kitab Induk. Persoalan-persoalan fiqih keseharian mulai dari ibadah, munakahah, muamalah, dan siyasah, diuraikan detail dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas, dalam kitab yang menjadi rujukan utama ahlu sunnah wal jama’ah yang bermazhab Syafi’iyah ini. Bukan hanya itu, ulama-ulama sesudahnya pun menempatkan kitab ini sebagai rujukan utama dalam mengembangkan fatwa-fatwa fikih kontemporer. Betul bahwa kitab al-‘Um ini menjadi rujukan setiap muslim yang bermazhab Syafi’iyah. Akan tetapi, siapa pun, sesungguhnya, perlu mempelajari, mengkaji, dan memahami, fatwa-fatwa Imam Syafi’i yang ada dalam kitab ini. Sebagai pijakannya, kita laksanakan pesan Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa, “Jika sebuah hadis bertentangan dengan perkataanku, maka buanglah perkataanku di belakang tembok.” Tentunya, lebih-lebih lagi bila bertentangan dengan Al-Qur’an. Bila semua mengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak akan ada lagi perselisihan di antara umat Islam hanya karena perbedaan pemahaman. Insya Allah. Buku persembahan Republika Penerbit [Republika, bukurepublika, Penerbit Republika]

... alamiah memiliki alat kelamin ganda dan dapat ditentukan kelaminnya yang lebih dominan. Sementara Khunsa Musykil adalah: Orang yang secara alamiah memiliki alat kelamin ganda dan sulit ditentukan kelaminnya yang lebih dominan. 19 Siraj ...

Ma’had Al-Qur’an dan Perannya bagi Institut PTIQ Jakarta

Buku ini memaparkan tentang manajemen dan pengelolaan yang dilaksanakan di Ma’had Al-Qur’an Institut PTIQ Jakarta. Secara sederhana, buku ini memberikan gambaran yang cukup komprehensif dan mendalam mengenai Ma’had Al-Qur’an. Manajemen yang diterapkan di Ma’had Al-Qur’an merupakan hal paling utama yang menjadi sorotan dalam buku ini. Ma’had Al-Qur’an yang menjadi salah satu ikon khas Institut PTIQ Jakarta memiliki daya tarik tersendiri dengan program-program asrama yang diberikan. Dengan manajemen Ma’had Al-Qur’an yang dikelola dengan baik, menjadikan lembaga ini memiliki daya saing yang cukup kompeten pada Perguruan Tinggi Islam. Selain itu, peran Ma’had Al-Qur’an memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan dan respons mahasiswa dalam bidang sosial dan akademis. Ma’had Al-Qur’an di Institut PTIQ Jakarta diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membina dan membimbing akhlak dan karakter para mahasiswa dalam mewujudkan generasi yang berjiwa qur’ani.

... alamiyah dan menjadi pola interaksi khas antar dindividu maupun kelompok di saat mereka mempunyai tujuan atau keinginan yang menghendaki adanya kerjasama agar apa yang mereka inginkan dapat diwujudkan. c. Manajemen dilaksanakan dengan ...

Nalar Fiqh ‘Ulama’ Kontemporer Atas Hukum Jihad: Studi Komparasi Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buti dan ‘Abdallah ‘Azzam

Dalam Islam, interrelasi antar manusia setidaknya dibagi dalam tiga kategori keterhubungan solidaritas: solidaritas antar orang Islam, solidaritas antar warganegara dan solidaritas antar sesama manusia. Ketiga model kerangka solidaritas tersebut menjadikan antara individu satu dengan individu lain tidak pernah tidak saling terhubung. Kalau bukan karena kesamaan agama, individu satu dan lainnya terhubung karena kesamaan statusnya sebagai warga negara. Jika bukan karena kesamaan status kewarganegaraannya, maka terhubung karena keberadaannya di muka bumi ini sebagai sesama manusia: makhluk yang paling mulia di muka bumi dan paling kompleks misi dan tugasnya untuk memakmurkan alam semesta dan seisinya. Pendek kata, diantara manusia, selalu ada tali pengikat kebersamaan antar individu sehingga diharapkan untuk bisa saling mencegah dan merajut jika dirasa ada potensi untuk terputusnya kesalingterhubungan. Khazanah fiqh Islam mengenal istilah dar al-harb dan dar al-salam. Dalam situasi ketegangan dan potensi kerusakan hubungan, dilukiskan kondisi manusia berada dalam konflik dan peperangan. Maka, berlaku hukum peperangan (dar al-harb), status kondisinya berada dalam teritori konflik dan perang. Berlakulah hukum perang. Sebaliknya, dalam situasi saling menyambung dan bekerjasama serta dalam keharmonisan, maka berlaku hukum perdamaian (dar al-salam). Klasifikasi perang dan damai, sebenarnya melukiskan kondisi kehidupan manusia yang terlalu sederhana. Hitam putih. Tetapi, di dalam penyederhanaan klasifikasi tersebut, dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa damai sebenarnya lebih disukai. Perang harus dihindari. Perang hanyalah sebuah keterpaksaan. Karena kata Islam itu sendiri bermakna otentik dan generik sebagai sinonim dengan damai (salam). Itu berarti, orang Islam harus identik dengan dimensi damai. Karena dimaksudkan dalam alur pemahaman yang demikian, maka, baik al-Qur’an maupun al- Hadith banyak sekali menjelaskan tentang fondasi kebaikan untuk menuju masyarakat yang damai. Sebaliknya, keduanya mengisahkan adanya masyarakat yang brutal dan barbar yang tidak ada pedoman nilai yang berlaku karena situasi chaotic dan perang. Manusia diperintahkan untuk senantiasa dan berusaha untuk berada dalam kondisi damai, mencegah dirinya tercebur dan terjerumus dalam kondisi perang. Dewasa ini, seiring dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan semakin banyaknya pengalaman umat manusia dalam interaksi antar sesamanya, maka instrumen dan protokol peraturan untuk menuju kedamaian akan semakin dicari dan digandrungi. Baik dalam level lokal, nasional, regional maupun internasional. Sementara, faktor-faktor yang dapat memicu ketegangan, konflik dan peperangan akan semakin dicegah. Setidaknya, selalu ada kesepakatan-kesepakatan untuk pencegahannya. Tidak hanya mencegah secara kuratif, tetapi mencegah secara preventif, bahkan mencegah secara pre-emptif. Karena pencegahan dengan model demikian, maka bukan hanya tentang perlombaan senjata atau konflik fisik saja yang diupayakan untuk dicegah, tetapi potensi laten yang ada dalam individu, tradisi dan bahkan agama yang dapat memicu terjadinya ketegangan yang sewaktuwaktu dapat membesar menjadi konflik, dan peperangan juga dicegah. Sebut saja, perilaku individu dan primordialisme tradisi dan agama yang disalah tafsirkan sehingga menimbulkan diskriminasi, ketidakadilan dan intoleransi. Kemajuan instrumen pencegahan di atas sangat mungkin untuk mengilhami lahirnya fiqh interaksi baru antar manusia yang lebih maju dan berdimensi untuk pencegahan juga. Tidak hanya berhenti pada klasifikasi dar al-harb dan dar al-salam, tetapi bisa meluas dan melebar menjadi fiqh toleransi antar kelompok, fiqh berbasis perdamaian dan fiqh yang mengeliminasi akar kekerasan, baik komunal maupun individual. Buku yang ditulis oleh saudara Fahmi Majid menjadi salah satu upaya rintisan untuk menuju kepada pemahaman demikian. Sebagai karya ilmiah tentu karya tersebut (mungkin) masih mengandung perdebatan. Sangat boleh jadi, pembaca akan menyatakan bahwa riwayat hidup dan keterlibatan sosial ‘Abdallah ‘Azzam berbeda dengan Muhammad Sa’id Ramadan al- Buti. Oleh karenanya, tafsir dan penghayatan mereka tentang jihad juga berbeda. (Memaksa) menempatkan dan menyamaratakan pemaknaan jihad dari dua individu dengan setting sosio-historis yang berbeda, akan tidak adil dan tidak jujur. Bisa jadi akan muncul pendapat demikian. Tetapi, penulis juga berhak untuk menyatakan, bahwa penafsiran dan pemaknaan ‘Azzam tidak pada tempatnya juga untuk terus dipelihara dan diwariskan. Justru karena setting sosial-historis yang berbeda tersebut. Artinya, umat Islam di manapun berada, akan memiliki dinamika sendiri. Sangat boleh jadi, dinamika tersebut berbalik dan berbeda dengan dinamika di saat mana ‘Azzam hidup dan terlibat dalam persoalan zamannya. Terlepas dari itu semua, setetes ilmu yang ada akan ikut menambahkan tetesan air yang sudah terkoleksi. Jika terus tetesan tersebut bertambah, apalagi menjadi semakin deras, tidak tertutup kemungkinan untuk menjadi danau air yang semakin dalam. Semoga buku ini akan mempercepat terbentuknya danau air tersebut.

... Alamiyah , t.t ) . Ibn Muslim Ibn Qutayba al - Dinawari , ` Abd Allah , “ Uyūn al - Akhbār ( Cairo : Dar al - Kitab al - ' Arabi , 1957 ) . Ibrahim b . Mūsā al - Shāțibi , Abū Ishaq , al - Muwafaqāt fi uşūl al - shari'a ( Cairo : Dar al ...

KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER ULUL AL-BAB DALAM AL-QUR’AN

KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER ULUL AL-BAB DALAM AL-QUR’AN PENULIS: Basrinsyah, M.Pd. Editor: Dr. NURHADI, S.Pd.I., S.E.Sy., S.H., M.Sy., MH., M.Pd. Ukuran : 14 x 21 cm ISBN : 978-623-270-318-6 Terbit : Juni 2020 www.guepedia.com Sinopsis: Konsep ul?l-alb?b yang terdapat dalam al-Quran adalah orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara ber-zikir di manapun dan kapanpun dia berada. Mereka selalu menancapkan kalimatullah dalam hatinya, di samping itu dia mau menggunakan kecerdasannya dengan selalu berfikir dan menganalisa ciptaan Allah SWT, sehingga dengan kegiatan berfikir dan berzikir tersebut mereka mampu mengambil faidah darinya atas semua keagungan Allah SWT dan mau mengingat hikmah akal dan keutamaannya dalam segala situasi dan kondisi. Dengan melakukan dzikir dan fikir, maka sampailah manusia pada suatu kesimpulan bahwa Allah SWT menciptakan alam ini syarat dengan tujuan dan kemanfaatan bagi manusia. Selanjutnya mereka memohon kepada Allah SWT supaya mereka diberi petunjuk dan dihindarkan dari siksa api neraka.Relevansi konsep ul?l-alb?b dengan karakter pendidikan nasional sangat erak sekali. ul?l-alb?bdan karakter pendidikan nasional adalah dua kata yang salingberhubungan, karena sebenarnya karakter pendidikan nasional adalah suatu misi yang diemban dan hendak direalisasikan oleh seorang ul?l-alb?b melalui berbagai aktifitas dalam kehidupan yang dijalaninya. Sedangkan ul?l-alb?b adalah merupakan salah satu tujuan akhir dari pendidikan itu sendir. Karakter ul?l-alb?b yang selalu befikir dan berzikir kepada Allah SWT akan mendekatkan dia yang karakter pendidikan nasional yang sejatinya sudah tergambar dalam Islam dan juga pribadi ulal albab. Karakter tersebut antara lain religius, jujur, toleransi, disiplin, dan lain-lain. www.guepedia.com Email : [email protected] WA di 081287602508 Happy shopping & reading Enjoy your day, guys

... alamiyah dengan metode ilmiah induktif dan deduktif, serta intelektual yang membangun kepribadian dengan dzikir dalam keadaan dan sarana ilmiah untuk kemaslahatan dan kebahagiaan seluruh umat manusia. Ulūl-albābadalh intelektual muslim ...

PEMAHAMAN TERJEMAH AYAT SUCI AL-QURAN

Inilah Kitab Suci AI-Qur’an yang tidak terdapat keraguan apapun di dalamnya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (QS. Al-Baqarah [2]: 2) Sungguh tak pernah diragukan lagi, Al-Qur’an merupakan petunjuk yang paling sempurna yang Allah turunkan untuk umat manusia. Menjadi kewajiban bagi kita sebagai muslim untuk mempelajari dan mengamalkan seluruh kandungannya. Tidaklah mungkin kita dapat mengamalkan segenap Isi Al-Qur’an, jika tak memahami isinya. Seluruh Isi kandungan Al-Qur’an hanya bisa kita pahami melalui tafsirnya. Oleh karena itu, Ilmu tafsir berkembang sebagai bagian dari cabang ilmu-ilmu syariat. Buku ini disusun oleh penulis yang tentunya memiliki kapasitas dalam bidang ilmu tafsir. Penulisnya menjelaskan tafsir Kitab Suci Al-Qur’an dengan rinci ayat demi ayat. Tak hanya itu, buku ini juga dilengkapi dengan fadhilah (keutamaan) tiap surat beserta Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat). Buku ini sangat cocok sebagai referensi setiap muslim yang ingin memahami sekaligus mempraktekkan kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

... . yang telah menciptakan dan memelihara perjalanan hidup manusia dari satu tahap kehidupan ketahap yang berikutnya, merupakan perjalanan hidup alamiyah yang amat menakjubkan). 335 336 ام ملعيو مکرہج و مکرس ملعي ؕ ضرالا یف.

Tinjauan Al-Qur’an Terhadap Diskrepansi Perilaku Manusia di Dunia Nyata dan Dunia Maya

Dunia maya/internet pada era ini sudah menjadi kebutuhan pokok bagi manusia. Sehingga tidak bisa dipisahkan antara dunia nyata dan dunia maya tersebut. Namun seiring berjalannya waktu menjadikan manusia ketergantungan terhadap dunia maya tersebut. Karena adanya ketergantungan tersebut memunculkan ketidaktidaksesuaian/diskrepansi perilaku-perilaku yang tidak sesuai di dalam dua dunia (nyata dan maya). Ketidaksesuaian ini menimbulkan masalah-masalah khususnya aspek interaksi sosial. Seperti memunculkan sikap-sikap yang bertentangan dengan dunia nyata yang ada padanya dengan dunia maya nya(semisalnya di dunia nyata dirinya jauh dari rangkaian ibadah sedangkan di dunia maya dirinya dekat dengan ibadah). Buku ini berusaha untuk membahas hal-hal di atas perspektif mufassir melalui pendekatan ayat-ayat Al-Qur’an tentang etika beragama aspek interaksi sosial.

... Sunan Abi Daud , ( Damaskus : Dar- Ar - Risalah Al- ' Alamiyah , 2009 ) , Kitab As- Sunnah , Bab Fi al - Ghibah , Cet . I Jilid 7 h . 244 Yakni Maha Penerima tobat terhadap orang yang mau bertobat kepada. 154 | Abdul Kodri Komaeri.

As'adiyah dan negara : konsep, relasi dan aksi perspektif maqasid al-syari'ah

... Alamiyah al-Kitab al-Islami, 1992. Rakhmat, Jalaluddin. Reformasi Sufistik. Bandung: Pustaka Hidayah, 1998. Rama, Bahaking. Jejak Pembaharuan Pendidikan Pesantren: Kajian Pesantren As'adiyah Sengkang Sulawesi Selatan. Jakarta ...