Sebanyak 537 item atau buku ditemukan

LA TAHZAN FOR SINGLE PARENT Sebab Single Parent Sering Lupa untuk Berbahagia

Kehidupan yang kita jalani ini penuh rahasia. Hari ini kita bisa tertawa bahagia, esok pagi mungkin kita dalam duka nestapa. Tak ada manusia yang mengetahui takdir yang harus dijalaninya. Semua menjadi rahasia Allah. Sebagai mahkluk-Nya, selain menyembah-Nya, kita berkewajiban untuk tetap bersyukur atas apa pun yang ditakdirkan Allah untuk kita. Perceraian dan/atau kematian suami dapat menjadikan seorang wanita menjadi Single Parent. Peran ini adalah peran yang sangat berat. Namun, kita dianjurkan untuk tetap menjaga keikhlasan dalam menjalani takdir kita. Kita tidak boleh larut dalam kesedihan-kesedihan. Kita tidak boleh tenggelam pada kegalauan-kegalauan. Kita harus mampu berdiri tegak untuk melanjutkan kehidupan dan merawat anak-anak kita hingga mereka mampu berdiri sendiri. Buku ini adalah upaya bagi Single Parent untuk menghancurkan kesedihan, kegalauan, kepenatan, kebingungan, dan semua ketidakpastian yang menyiksa agar ia dapat berbahagia. Diuraikan masalah-masalah yang dihadapi oleh Single Parent, kemudian ditawarkan solusi-solusi praktis yang mudah dilakukan. Dengan bahasa yang lugas namun tetap bersahaja, buku ini akan mudah dibaca, dipahami dan dipraktikkan. Selamat membaca dan semoga bermanfaat. Judul : LA TAHZAN FOR SINGLE PARENT Sebab Single Parent Sering Lupa untuk Berbahagia Jumlah halaman : 228 Ukuran buku : 14x20.5cm Tahun : 2020

Selamat membaca dan semoga bermanfaat. Judul : LA TAHZAN FOR SINGLE PARENT Sebab Single Parent Sering Lupa untuk Berbahagia Jumlah halaman : 228 Ukuran buku : 14x20.5cm Tahun : 2020

Erasmus of Rotterdam

A Portrait.

Erasmus of Rotterdam (1466/67–1536) remains, for good reason, the best-known humanist of his time. He influenced reformers, philosophers, politicians, literati, legal scholars, educators, artists and musicians in his own as well as in later centuries and covered an astonishingly broad range of topics: war and peace, politics and human dignity, jurisdiction and philosophy of law, church music and homiletics, piety and common wisdom, style and manners, as well as questions of matrimony, gender and education. Indeed, Erasmine thought continues to influence European intellectual history to this day. Christine Christ-von Wedel introduces Erasmus as a personality but also expands on his rich and multi-layered thinking and the struggles and longings in the age of Reformation characterised by his clashes with both Martin Luther and the Catholic establishment.

Erasmus of Rotterdam (1466/67–1536) remains, for good reason, the best-known humanist of his time.

Ringkasan Fiqih Islam

Ibadah & Muamalah

Kitab Mulakash al-Fiqh merupakan karya terbaik Doktor Shaleh bin al-Fauzan seorang ulama sekaligus mufti Kerajaan Arab Saudi yang ditulis kembali oleh Tim El-Madani dengan beberapa penambahan konten sehingga lebih memperkaya pemahaman kita mengenai fiqih. Kitab ini membahas dan mengkaji ilmu fiqih dari berbagai aspek kajian dikaji secara sistematis dan metodologis namun ringkas dan padat. Dalil Alquran dan As-Sunah yang beliau gunakan tepat guna dalam mengkaji tiap bahasan baik seputar thaharah, salat, dan ibadah lainnya.

Kitab Mulakash al-Fiqh merupakan karya terbaik Doktor Shaleh bin al-Fauzan seorang ulama sekaligus mufti Kerajaan Arab Saudi yang ditulis kembali oleh Tim El-Madani dengan beberapa penambahan konten sehingga lebih memperkaya pemahaman kita ...

AL-UMM #12: Kitab Induk Fiqih Islam

Tidaklah berlebihan bila Imam Syafi’i menamai kitabnya Al-‘Um, yang berarti kitab Induk. Persoalan-persoalan fiqih keseharian mulai dari ibadah, munakahah, muamalah, dan siyasah, diuraikan detail dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas, dalam kitab yang menjadi rujukan utama ahlu sunnah wal jama’ah yang bermazhab Syafi’iyah ini. Bukan hanya itu, ulama-ulama sesudahnya pun menempatkan kitab ini sebagai rujukan utama dalam mengembangkan fatwa-fatwa fikih kontemporer. Betul bahwa kitab al-‘Um ini menjadi rujukan setiap muslim yang bermazhab Syafi’iyah. Akan tetapi, siapa pun, sesungguhnya, perlu mempelajari, mengkaji, dan memahami, fatwa-fatwa Imam Syafi’i yang ada dalam kitab ini. Sebagai pijakannya, kita laksanakan pesan Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa, “Jika sebuah hadis bertentangan dengan perkataanku, maka buanglah perkataanku di belakang tembok.” Tentunya, lebih-lebih lagi bila bertentangan dengan Al-Qur’an. Bila semua mengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak akan ada lagi perselisihan di antara umat Islam hanya karena perbedaan pemahaman. Insya Allah. Buku persembahan Republika Penerbit [Republika, bukurepublika, Penerbit Republika]

Tidaklah berlebihan bila Imam Syafi’i menamai kitabnya Al-‘Um, yang berarti kitab Induk.

AL-UMM #11: Kitab Induk Fiqih Islam

Tidaklah berlebihan bila Imam Syafi’i menamai kitabnya Al-‘Um, yang berarti kitab Induk. Persoalan-persoalan fiqih keseharian mulai dari ibadah, munakahah, muamalah, dan siyasah, diuraikan detail dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas, dalam kitab yang menjadi rujukan utama ahlu sunnah wal jama’ah yang bermazhab Syafi’iyah ini. Bukan hanya itu, ulama-ulama sesudahnya pun menempatkan kitab ini sebagai rujukan utama dalam mengembangkan fatwa-fatwa fikih kontemporer. Betul bahwa kitab al-‘Um ini menjadi rujukan setiap muslim yang bermazhab Syafi’iyah. Akan tetapi, siapa pun, sesungguhnya, perlu mempelajari, mengkaji, dan memahami, fatwa-fatwa Imam Syafi’i yang ada dalam kitab ini. Sebagai pijakannya, kita laksanakan pesan Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa, “Jika sebuah hadis bertentangan dengan perkataanku, maka buanglah perkataanku di belakang tembok.” Tentunya, lebih-lebih lagi bila bertentangan dengan Al-Qur’an. Bila semua mengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak akan ada lagi perselisihan di antara umat Islam hanya karena perbedaan pemahaman. Insya Allah. Buku persembahan Republika Penerbit [Republika, bukurepublika, Penerbit Republika, kitab babon]

Tidaklah berlebihan bila Imam Syafi’i menamai kitabnya Al-‘Um, yang berarti kitab Induk.

رسالة استحسان الخوض في علم الكلام Anjuran Mendalami Ilmu Kalam Kajian Karya Fundamental Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah Al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari (w 324 H)

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas Rasulullah. Sesungguhnya ilmu mengenal Allah dan mengenal sifat-sifat-Nya adalah ilmu paling agung dan paling utama, serta paling wajib untuk didahulukan mempelajarinya atas seluruh ilmu lainnya, karena pengetahuan terhadap ilmu ini merupakan pondasi bagi keselamatan dan kebahagiaan hakiki. Ilmu ini dikenal juga dengan nama Ilmu Ushul, Ilmu Tauhid, Ilmu Aqidah dan Ilmu Kalam. Dalam sebuah hadits Rasulullah menyebutkan bahwa dirinya adalah seorang yang telah mencapai puncak tertinggi dalam ilmu ini. Beliau bersabda: أنَا أعْلَمُكُمْ بِاللهِ وَأخْشَاكُمْ لَهُ (رَوَاهُ الْبُخَارِيّ) “Saya adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian, dan saya adalah orang yang paling takut di antara kalian bagi-Nya”. (HR. al-Bukhari). Dengan dasar hadits ini maka Ilmu Tauhid sudah seharusnya didahulukan untuk dipelajari dibanding ilmu-ilmu lainnya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ (سورة محمد: 19) “Maka ketahuilah (wahai Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan mintalah ampun bagi dosamu juga bagi seluruh orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan”. (QS. Muhammad: 19). Dalam ayat ini Allah mendahulukan perintah mengenal tauhid di atas perintah Istighfâr. Hal ini dikarenakan bahwa mengenal Ilmu Tauhid terkait dengan Ilmu Ushul yang merupakan dasar atau pokok-pokok agama, yang karenanya harus didahulukan, sementara mengucapkan Istighfâr terkait dengan Ilmu Furu’ atau cabang-cabang agama. Tentunya tidak dibenarkan bagi siapapun untuk melakukan istighfar atau melakukan kesalehan lainnya dari amalan-amalan furû’ jika ia tidak mengetahui Ilmu Tauhid atau Ilmu Ushul. Karena bila demikian maka berarti ia melakukan kesalehan dan beribadah kepada Tuhan-nya, sementara ia sendiri tidak mengenal siapa Tuhan-nya tersebut. Oleh karena itu dalam banyak ayat al-Qur’an Allah telah memerintahkan manusia untuk mempergunakan akalnya dalam melihat keagungan penciptaan-Nya hingga dapat mengenal tanda-tanda kekuasaan dan sifat-sifat-Nya. Seperti dalam firman-Nya: أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (سورة الأعراف: 185) “Tidakkah mereka melihat pada kerajaan langit-langit dan bumi?!” (QS. al-A’raf: 185). Dalam ayat lain Allah berfirman: سَنُرِيهِمْ آَيَاتِنَا فِي الْآَفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ (سورة فصلت: 53) “Akan Kami perlihatkan kepada mereka akan tanda-tanda kekuasaan Kami di segala ufuk juga tanda-tanda kekuasaan Kami pada diri mereka hingga menjadi jelas bahwa Dia Allah adalah al-Haq”. (QS. Fushilat: 53). Objek bahasan dari Ilmu Tauhid ini adalah berpikir tentang makhluk untuk dijadikan bukti akan adanya al-Khaliq. Dalam satu pendapat disebutkan tentang definisi Ilmu Tauhid bahwa ia adalah salah satu disiplin ilmu yang membahahas tentang nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya serta segala perbuatan-Nya. Juga membahas tentang keadaan para makhluk; dari bangsa Malaikat, para Nabi Allah, para Wali Allah, para Imam, penciptaan makhluk, dan tentang kehidupan di akhirat kelak. Pembahasan hal ini semua didasarkan kepada argumen-argumen yang telah ditetapkan dalam Islam, bukan dibangun diatas dasar-dasar pemikiran filsafat. Karena dasar pemikiran kaun filosof dalam pembahasan mereka tentang Tuhan, para Malaikat dan masalah lainnya, hanya bersandarkan kepada pemandangan logika semata. Dalam pada ini mereka menjadikan akal sebagai pondasi bagi ajaran agama. Sama sekali mereka tidak melakukan sinkronisasi antara logika dengan teks-teks yang dibawa oleh para Nabi. Adapun para ulama tauhid dalam membicarakan masalah keyakinan tidak semata mereka bersandar kepada akal. Namun akal diposisikan sebagai saksi dan bukti akan kebenaran apa yang datang dari Allah dan yang dibawa oleh para nabi tersebut. Dengan demikian para ulama tauhid ini menjadikan akal sebagi bukti, tidak menjadikannya sebagai pondasi bagi ajaran agama.

Segala puji bagi Allah.

The State of Food and Agriculture 2020

Overcoming water challenges in agriculture

Intensifying water constraints threaten food security and nutrition. Thus, urgent action is needed to make water use in agriculture more sustainable and equitable. Irrigated agriculture remains by far the largest user of freshwater, but scarcity of freshwater is a growing problem owing to increasing demand and competition for freshwater resources. At the same time, rainfed agriculture is facing increasing precipitation variability driven by climate change. These trends will exacerbate disputes among water users and inequality in access to water, especially for small-scale farmers, the rural poor and other vulnerable populations. The State of Food and Agriculture 2020 presents new estimates on the pervasiveness of water scarcity in irrigated agriculture and of water shortages in rainfed agriculture, as well as on the number of people affected. It finds major differences across countries, and also substantial spatial variation within countries. This evidence informs a discussion of how countries may determine appropriate policies and interventions, depending on the nature and magnitude of the problem, but also on other factors such as the type of agricultural production system and countries’ level of development and their political structures. Based on this, the publication provides guidance on how countries can prioritize policies and interventions to overcome water constraints in agriculture, while ensuring efficient, sustainable and equitable access to water.

... M.-B., Tamiotti, L. & Hofmann, C. 2014. Water policy, agricultural trade and WTO rules. In P. Martinez-Santos, M ... New York, USA. 55. Bush, M.J. 2018. Climate change adaptation in small island developing states. Hoboken, USA ...