Sebanyak 10 item atau buku ditemukan

Kamus Praktis Psikoanalisis

Siapa yang tak kenal Sigmund Freud? Tentu saja nama Sigmund Freud tidaklah asing lagi. Dialah sang penemu psikoanalisis. Dan, teorinya yang sangat terkenal adalah tentang alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku. Dari waktu ke waktu, beragam diskusi tentang psikoanalisis semakin berkembang. Untungnya, kita memiliki kesempatan untuk mengkaji karya-karya Freud yang autentik, dalam tiga belas karyanya yang menakjubkan. Nah, agar lebih praktis, namun tetap komplet dan komprehensif, karya-karya Freud tersebut dirangkum dalam buku ini. Dengan demikian, buku ini bisa dijadikan sebagai acuan bagi para pelajar maupun praktisi. Di dalam buku inilah, Freud mendefinisikan istilah-istilah psikoanalisis secara gamblang sekaligus membahas persoalan-persoalan seputar psikoanalisis secara detail. Buku ini, yang disuguhkan dalam bentuk kamus superkomplet, akan membantu meluruskan kesalahpahaman ataupun konsepsi yang keliru tentang psikoanalisis di kalangan intelektual. Selamat membaca!

... E & I -- bab 4 PARAPHRENIA (parafrenia) Menggunakan istilah parafrenia pada perkara dementia praecox adalah hal yang sangat tepat. Istilah ini sama sekali tidak punya konotasi khusus, dan digunakan untuk mengindikasikan adanya kaitan ...

Tafsir Perempuan

Wacana Perjumpaan Al-Qur'an, Perempuan, dan Budaya Kontemporer

Wacana mengenai perjumpaan al-Qur’an, perempuan, dan kebudayaan kontemporer merupakan salah satu wacana utama dalam arus pemikiran Islam modern, dan Asghar Ali Engineer termasuk intelektual Muslim garda depan dalam wacana tersebut. Teorinya mengenai teologi pembebasan feminis cukup familiar bagi publik Indonesia. Melalui teorinya ini, ia berupaya mendekonstruksi fiqh perempuan yang diproduksi oleh ulama-ulama terdahulu yang pada era sekarang sudah tidak relevan lagi. Di dalam buku ini, Asghar Ali Engineer dengan cukup tangkas membeberkan efek logis dari kebudayaan kontemporer terhadap peran dan serta perempuan di ruang publik. Kemudian, ia menawarkan metode penafsiran baru terhadap al-Qur’an yang sama sekali berbeda dari metode-metode penafsiran lama sehingga ‘fiqh perempuan’ baru yang ia tawarkan tidak melenceng dari koridor-koridor yang ditetapkan oleh nash, sekaligus sesuai dengan tren kehidupan yang dibawa oleh kebudayaan kontemporer. Metode itu ia sebut sebagai metode arkeologi. Dengan metode ini, ia bukan saja menawarkan perspektif-perspektif baru mengenai relasi al-Qur’an, perempuan, dan kebudayaan kontemporer, melainkan juga sampai pada satu temuan pentingnya bahwa doktrin-doktrin lama yang misoginis, diskriminatif, dan menafikan eksistensi kaum perempuan merupakan salah satu megaskandal dominasi laki-laki terhadap doktrin Islam.

... ayat-ayat al-Qur'an. Meskipun mereka mengetahui bahasa Arab, sebagiannya banyak tahu tentang literatur Jahiliah (masa pra-Islam) dan oleh sebab itu terbiasa dengan kata-kata asing, dan hal ini membantu mereka memahami ayat-ayat al ...

Para Ulama dan Intelektual yang Memilih Menjomblo

Pernahkah Anda mendengar nama Imam Nawawi, Ibnu Jarir ath-Thabari, atau Ibnu Taimiyah? Nama pertama adalah raksasa Madzhab Syafi’i, nama kedua terkenal sebagai Guru Besar Para Mufasir, sedangkan nama ketiga adalah ulama kebanggaan kaum Salafi. Ketiganya adalah ulama besar, dan mereka tentu saja mafhum soal hukum menikah. Namun, hingga akhir hayatnya, mereka memilih untuk melajang (jomblo). Mengapa? Anda akan menemukan jawabannya dengan membaca buku ini. Buku ini berisi biografi singkat 21 tokoh jomblo, dari generasi shalafush shalih hingga kontemporer, baik tokoh laki-laki maupun perempuan. Mereka terdiri dari ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqh, sufi, sastrawan, politisi, fiminis, bahkan Wali Quthub, mujtahid (ahli ijtihad), mujaddid (pembaru), dan mujahid (pejuang). Ada banyak alasan mereka memilih untuk tidak menikah. Karena sangat larut dalam telaga keimanan dan peribadatan, tenggelam dalam telaga ilmu pengetahuan, hingga sangat sibuk berjuang. Di bagian akhir, penulis memberikan keterangan yang sangat memikat mengenai hukum menikah lintas mazhab.

Pernahkah Anda mendengar nama Imam Nawawi, Ibnu Jarir ath-Thabari, atau Ibnu Taimiyah?

Paradigma Teoantroposentris dalam Konstelasi Tafsir Hukum Islam

“Metodologi neomodernisme tafsir Fazlur Rahman bisa dikatakan sebagai eksemplar tafsir al-Qur’an yang tetap sesuai dengan kebutuhan masyarakat kontemporer. Karena itu, metodologinya terus dikembangkan dan diapresiasi oleh gerenasi setelahnya, utamanya oleh Abdullah Saeed dengan tafsir kontekstualnya. Spirit tafsir ini kemudian menjalar ke buku yang ada di depan sidang pembaca ini. Selamat membaca pemikiran-pemikiran bernas dalam buku ini!” Dr. Aksin Wijaya, Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo. * * * Fragmentasi dan diferensiasi ilmu-ilmu keislaman, khususnya teologi dan hukum Islam, terus mengemuka hari ini. Dampaknya, hukum Islam mengalami krisis epistemologis dan paradigmatis. Hukum Islam dipahami secara normatif belaka, dijauhkan dari moralitas, dan tercerabut dari realitas kehidupan. Problem ini berbanding lurus dengan merunyaknya fenomena keberagamaan yang mengarah pada puritanisme dan radikalisme di Indonesia. Seyogianya, sangat dibutuhkan gerakan reorientasi paradigmatis penalaran hukum Islam dari teosentris dan antroposentris ke teoantroposentris. Paradigma ini dimaksudkan untuk mengintegrasikan wahyu dan akal, agama dan kehidupan, serta norma dan nomos. Kerangka paradigmatis inilah yang kelak mesti menjadi basis pengembangan dan rekayasa hukum Islam masa depan. Buku ini meneliti dengan saksama mengenai metode progresif-integratif teoantroposentris tersebut dengan menjadikan pemikiran Fazlur Rahman dan Abdullah Saeed sebagai model risetnya.

... “ al - Qur'an sebagai Wahyu Ilahi ” , al - Qur'an dan Serangan Orientalis ( Januari , 2005 ) , hlm . 86 . 118 M. Quraish Shihab , Logika Agama : Kedudukan Wahyu 113 Paradigma Teoantroposentris dalam Konstelasi Tafsir Hukum Islam.

Sejarah Lengkap Wahhabi

“Buku ini, yang ditulis oleh seorang alumni pesantren, dengan melacak ajaran-ajaran, sejarah, politik kekuasaan, dan para kritikus Wahhabi, menarik untuk dijadikan bahan pertimbangan melihat gerakan Wahhabi. Buku ini dapat memperkaya bacaan umat Islam tentang eksistensi gerakan Wahhabi di dunia muslim. Dan, untuk konteks di Indonesia, kaum muslim dapat mengambil pelajaran dalam rangka mengembangkan Islam rahmatan lil ‘alamin yang sesungguhnya, melalui sikap muslim Indonesia yang khas.” —KH. Chasan Abdullah, Katib Syuriyah PWNU Yogyakarta, dan Pengasuh PP. As-Salafiyyah, Mlangi. Buku ini memaparkan secara komprehensif sejarah Wahhabi sejak kelahirannya, sepak terjangnya, hingga pengaruhnya pada era modern. Di dalamnya, juga dikupas doktrin, ideologi, dan amaliah sekte atau mazhab Wahhabi dengan merujuk pada sumber-sumber primer, termasuk dari karya kritis orang dekat Muhammad bin Abdul Wahab, dan diperkaya referensi-referensi modern tepercaya. Dengan bahasa yang gamblang dan analisis yang tajam, Nur Khalik Ridwan—penulis buku ini—berhasil menyuguhkan bacaan berkualitas yang meyakinkan dan mengasyikkan. Lebih dari itu, di tengah minimnya buku-buku sejenis, buku ini dapat dijadikan sebagai sumber pokok untuk mengkaji lebih jauh gerakan Wahhabi pada masa mendatang. Selamat membaca!

... darah Yahudi dari keluarga Saudi ketika ia menyatakan kepada Washington Post pada 17 September 1969: Terlepas dari apakah keluarga Saud ini berdarah Yahudi atau bukan,. “Kami, keluarga Saudi adalah saudara sepupu (cousins) Yahudi. Kami ...