Sebanyak 6113 item atau buku ditemukan

Jas hitam

jangan sekali-kali menghitamkan sejarah Islam! : [mengungkap distorsi sejarah Islam] : dwilogi putih hitam sejarah Islam

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN DAKWAH DI KERINCI

Judul : SEJARAH DAN PERKEMBANGAN DAKWAH DI KERINCI Penulis : Dr. Ahmad Zuhdi, M.A., Ravico, M.Hum., Herry Prasetia Reski, S.Sos., Suhardiman, S.Sos., Roni Oka Frayoga, S.Sos Editor : Anggi Desviana Siregar Ukuran : 15,5 x 23 cm Tebal : 144 Halaman ISBN : 978-623-497-429-4 Sinopsis Sejarah perkembangan Islam di Kerinci masih perlu dikaji secara mendalam. Jika dikaji lebih mendalam masih dapat ditemukan beberapa perbauran antara Islam dan adat-istiadat setempat. Secara geogerafis Kerinci yang merupakan wilayah tertinggi di Sumatera, menjadi sangat sulit di akses pada masa lalu. Transportasi menjadi sulit mengingat jalur-jalur yang ada melalui sungai atau perbukitan. Pertanyaan yang paling mendasar ialah bagaimana jalur masuknya Islam dan bagaimana jalur Islamisasi yang berkembang di Kerinci? Berbagai hipotesis yang lahir dari pertanyaan tersebut. Terlepas dari semua hipotesis tersebut, peran tokoh-tokoh Islam yang melakukan Islamisasi di Kerinci menjadi hal yang sentral dalam membangun peradaban Islam di sini. Buku yang berjudul Sejarah dan Perkembangan Dakwah di Kerinci, merupakan hasil kajian yang ditulis oleh tim. Buku ini mencoba memberikan historiografi Islam di Kerinci yang tersusun dengan tema-tema khsusu terutama kajian tentang tarekat dan organisasi ke-Islaman yang berkembang di Kerinci. Buku ini juga mengambarkan prosesi dakwah yang juga digunakan oleh Ulama-ulama terdahulu dalam menanamkan nilai-nilai ke-Islaman bagi masyarakat setempat.

Judul : SEJARAH DAN PERKEMBANGAN DAKWAH DI KERINCI Penulis : Dr. Ahmad Zuhdi, M.A., Ravico, M.Hum., Herry Prasetia Reski, S.Sos., Suhardiman, S.Sos.

Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia Abad VII Sampai Abad XV

Islmisasi Nusantara merupakan suatu proses yang sangat penting dalam sejarah Islam di Indonesia, dan juga dianggap sebagai permasalahan yang paling tidak jelas. Ketidakjelasan ini antara lain terletak pada pertanyaan kapan Islam datang, dari mana Islam berasal, siapa yang menyebarkan Islam di Nusantara pertama kali dan sebagainya. Karenanya sampai sekarang persoalan ini masih senantiasa menjadi ajang perdebatan para ahli sejarah, meskipun telah diadakan beberapa kali seminar yang membahas masalah tersebut. Pada tahun 1963 para ahli berkumpul di Medan untuk membicarakan persoalan ini secara akademik. Perdebatan pun menjadi sengit yang berujung pada dua pendapat. Tentang waktu dan asal usul Islam. Sejak masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara tentu memerlukan proses yang sangat panjang dan melalui saluran-saluran Islamisasi yang beragam, seperti perdagangan, perkawinan, tarekat (tasawuf), Pendidikan dan kesenian.Pada tahap awal proses Islamisasi, saluran perdagangan sagat dimungkinkan. Hal ini sejalan dengan kesibukan lalu lintas perdagangan abad ke 7 sampai abad ke 16, sebagaimana telah diuraikan di atas. Para pedagang dari Arab, Persia, India dan Cina ikut ambil bagian dalam aktivitas perdagangan dengan masyarakat di Asia Barat, Timur dan Tenggara. Saluran Islamisasi dengan media perdagangan sangat menguntungkan. Hal ini disebabkan karena dalam Islam tidak ada pemisahan antara aktivitas perdagangan dengan kewajiban mendakwahkan Islam kepada pihak-pihak lain. Nabi Muhammad sendiri memimpin ekspedisi dagang ke Syam ketika beliau belum mendapat risalah. Selain itu, dalam aktivitas perdagangan ini, golongan raja dan kaum bangsawan lokal umumnya terlibat di dalamnya. Tentu saja ini sangat menguntungkan, karena dalam tradisi lokal apabila seorang raja memeluk Islam, maka dengan sendirinya akan diikuti oleh mayoritas rakyatnya. Ini terjadi karena masih kuatnya penduduk pribumi memelihara prinsip-prinsip yang sangat diwarnai oleh hirarki tradisional.

Islmisasi Nusantara merupakan suatu proses yang sangat penting dalam sejarah Islam di Indonesia, dan juga dianggap sebagai permasalahan yang paling tidak jelas.

Sejarah dan Evolusi Kekristenan: Abad ke-1

Kekristenan pada abad ke-1 mencakup sejarah formatif Kekristenan dari awal pelayanan Yesus (sekitar 27-29 M) hingga kematian Dua Belas Rasul terakhir (sekitar 100) dan dengan demikian juga dikenal sebagai Apostolik Usia. Kekristenan awal berkembang dari pelayanan eskatologis Yesus. Setelah kematian Yesus, para pengikutnya yang paling awal membentuk sekte mesianik Yahudi apokaliptik selama periode Bait Suci Kedua abad ke-1. Awalnya percaya bahwa kebangkitan Yesus adalah awal dari akhir zaman, kepercayaan mereka segera berubah pada kedatangan Yesus kedua yang diharapkan dan dimulainya Kerajaan Allah di kemudian hari. Isi: Sejarah Kekristenan, Latar belakang sejarah Perjanjian Baru, Periode Bait Suci Kedua, Pelayanan Yesus, Kekristenan pada abad ke-1.

Kekristenan pada abad ke-1 mencakup sejarah formatif Kekristenan dari awal pelayanan Yesus (sekitar 27-29 M) hingga kematian Dua Belas Rasul terakhir (sekitar 100) dan dengan demikian juga dikenal sebagai Apostolik Usia.

Wanita dan Peradilan

Seri Fikih Wanita Empat Madzhab

Bolehkah wanita menjabat sebagai hakim? Masalah ini termasuk yang diperselisihkan di kalangan para fuqaha’ dahulu. Dimana segolongan dari mereka –yakni dari kalangan madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali– berpendapat tentang tidak bolehnya seorang wanita menjabat sebagai hakim.

Bolehkah wanita menjabat sebagai hakim?