Realizing the Dream of R. A. Kartini: Her Sisters' Letters from Colonial Java presents a unique collection of documents reflecting the lives, attitudes, and politics of four Javanese women in the early twentieth century. Joost J. Coté translates the correspondence between Raden Ajeng Kartini, Indonesia's first feminist, and her sisters, revealing for the first time her sisters' contributions in defining and carrying out her ideals. With this collection, Coté aims to situate Kartini's sisters within the more famous Kartini narrative-and indirectly to situate Kartini herself within a broader narrative. The letters reveal the emotional lives of these modern women and their concerns for the welfare of their husbands and the success of their children in rapidly changing times. While by no means radical nationalists, and not yet extending their horizons to the possibility of an Indonesian nation, these members of a new middle class nevertheless confidently express their belief in their own national identity. Realizing the Dream of R. A. Kartini is essential reading for scholars of Indonesian history, providing documentary evidence of the culture of modern, urban Java in the late colonial era and an insight into the ferment of the Indonesian nationalist movement in which these women and their husbands played representative roles.
With this collection, Coté aims to situate Kartini's sisters within the more famous Kartini narrative-and indirectly to situate Kartini herself within a broader narrative.
Maka dari itu, sangat penting bagi generasi muda untuk meneladani jejak langkah tokoh perempuan berpengaruh tersebut Daftar isi Sampul Kata Pengantar Daftar Isi Mukadimah Anak yang Cerdas, Lincah, dan Banyak Akal Masa Sekolah Terbelenggu ...
Buku ini menyajikan kisah inspiratif tujuh perempuan generasi penerus Kartini. Pandemi yang melanda negeri telah membatasi gerak langkah dan kiprah ketujuh perempuan itu. Namun, berbagai rintangan dapat mereka atasi sehingga sukses di tengah pandemi.
Saat hari Kartini Nunik dan Afika sibuk berdandan di depan cermin. Mereka akan ikut lomba busana di sekolah. Wah, kira-kira siapa ya yang bakal jadi juaranya? Nunik atau Afika? Dua-duanya memang cantik sih.
Saat hari Kartini Nunik dan Afika sibuk berdandan di depan cermin. Mereka akan ikut lomba busana di sekolah. Wah, kira-kira siapa ya yang bakal jadi juaranya? Nunik atau Afika? Dua-duanya memang cantik sih.
Bulan suci Ramadlan sudah di hadapan kita. Mari kita sambut kedatangan tamu mulia ini dengan sambutan terhangat. Di antara para ulama terkemuka terdahulu senantiasa berdoa selama enam bulan memohon kepada Allah agar mereka dapat bertemu dengan bulan suci Ramadlan, lalu dalam enam bulan berikutnya mereka senantiasa berdoa agar ibadah mereka yang telah dikerjakan di bulan Ramadlan diterima oleh Allah. Kalau saja setiap orang dari kita mengetahui keistimewaan yang terdapat dalam bulan Ramadlan niscaya mereka akan selalu berharap Ramadlan memanjang waktunya dalam setahun penuh. Orang-orang mukmin mendapatkan kabar gembira akan dibukakannya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka, serta dibelenggunya pemuka-pemuka syetan. Kabar gembira ini tidak terdapat dalam bulan-bulan selain Ramadlan. Barangsiapa mengisi Ramadlan dengan kesalehan-kesalehan maka dia telah mendapatkan rahmat yang besar, dan barangsiapa menyia-nyiakannya maka ia tidak telah melewatkan kebaikan yang agung. Sayyidina Umar bin Abdul Aziz pada akhir khutbah-nya berkata: “Sesungguhnya kalian tidaklah diciptakan dengan sia-sia dan kalian tidak dibiarkan begitu saja, akan tetapi ada tempat kembali bagi kalian pada hari kiamat. Allah akan menghisab hamba-hamba-Nya. Maka sungguh merugi orang yang menyia-nyiakan rahmat Allah yang sangat luas, sungguh merugi orang yang tidak mendapatkan surga yang lebarnya seluas langit dan bumi. Bukankah kalian tahu bahwa kalian akan mati dan akan datang generasi setelah kalian. Setiap hari kita mengantarkan mereka yang telah sampai ajalnya, maka bertaqwalah kepada Allah sebelum kematian mendatangi kita. Sungguh aku mengatakan nasihat ini untuk kalian; yang sesungguhnya dosa-dosa saya sendiri yang tidak saya ketahui jauh lebih banyak dari pada dosa-dosa yang saya ketahui, yang karena itu saya terus meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”. Kabar gembira bagi orang-orang mukmin dengan dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, dan dibelenggunya Iblis dan pemuka-pemuka syetan di bulan suci ini. Maka hendaklah kita persiapkan diri kita dengan bekal yang cukup untuk menyambut bulan bertaburan berkah dan ampunan ini. Jangan sia-siakan kedatangannya karena kesempatan berharga ini belum tentu dapat kita raih kembali pada tahun-tahun mendatang. Kita adalah manusia-manusia yang senantiasa dalam kerugian, namun demikian akan datang kepada kita hari-hari yang menjanjikan perdagangan yang menguntungkan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan keberuntungan pada bulan Ramadlan ini maka kapan dia akan beruntung?! Pahala diraih dengan usaha, maka jadikanlah Ramadlan ini sebagai usaha untuk meraih pahala. Buku yang ada di hadapan anda ini semoga ikut memberikan kontribusi khususnya bagi penulis, keluarga, dan kerabat, dan umumnya bagi seluruh ummat Islam dalam usaha membekali diri dengan pengetahuan tentang ibadah puasa yang akan kita kerjakan. Semoga puasa dan segala amal ibadah kita yang kita kerjakan di bulan suci Ramadlan ini berbuah ridla Allah dan pahala yang kelak dapat kita temui di akhirat kelak. Amin. Selamat datang wahai Ramadlan. Selamat datang wahai bulan yang paling mulia. Selamat datang wahai bulan puasa.