Disebutkan bahwa ada seorang makmum yang hendak shalat Maghrib bersama imam. Tetapi, ia telah tertinggal sastu rakaat. Saat itu, imam dalam posisi duduk tawarruk pada tasyahud akhir, lalu, makmum mengikuti saja apa yang dilakukan sang imam. Ia duduk tawarruk. Tiba-tiba, salah seorang temannya, usai shalat, menanyakan hal itu. Ia bertanya: “haruskah kita duduk tawarruk sebagaimana imam, bukan duduk iftirasy. Bukankah imam tasyahud akhir, sedangkan kita baru tasyahud awal?” Buku ini akan memberi penjelasan yang rinci, berikut dalil hukum yang melatarinya. Bagaimana pun, setiap Muslim akan pernah mengalami dua hal, saat ia hendak shalat berjamaah dan menjadi makmum: muwaffak dan masbuk
Amalan baik yang tidak mengacu pada aturan dan cara yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. termasuk dalam kategori bid'ah, yaitu cara beragama yang dibuat-buat, yang meniru syariat, yang dimaksudkan dengan melakukan hal itu sebagai cara berlebihan dalam beribadah kepada Allah (Imam asy Syathibi). Padahal, Rasulullah Saw. bersabda: “Siapa pun yang membuat perkara-perkara baru dalam agama ini, yang tidak ada dasarnya dari agama ini, ia tertolak” (HR Muslim). Buku ini hadir untuk memberi pencerahan agar, dalam hal pelaksanaan ibadah, tidak lagi cenderung pada mitos, atau “ungkapan kata kyai”. Ulasan buku ini didukung oleh dalil-dalil yang jelas. Terhadap kehadiran buku ini, hindari pelampiasan emosi yang tidak pada tempatnya. Bukalah dengan keikhlasan sehingga kebaikan yang Allah anugerahkan akan menyelusup ke dalam kalbu kita.
Amalan baik yang tidak mengacu pada aturan dan cara yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. termasuk dalam kategori bid'ah, yaitu cara beragama yang dibuat-buat, yang meniru syariat, yang dimaksudkan dengan melakukan hal itu sebagai cara ...
Ilmu fiqih sudah menjadi disiplin ilmu tersendiri sebagaimana ilmu akhlak dan akidah. Buku ini akan mengantarkan pembaca pada pendalaman yang utuh tentang ilmu fiqih yang dimaksud dan membantu sesorang untuk memahami "wujud nyata makhluk" bernama ilmu fiqih
Tuhan dan Alam dalam Perbincangan Filosof Ibnu Sina dan Teolog Al-Ghazali
Buku ini, sebagai klaim penulisnya, berupaya untuk mendialogkan alur pemikiran Ibnu Sina yang konsisten bergelur dalam ranah filsafat dan al-Ghazali, dengan gelar terhormatnya sebagai Hujjah al-Islam, yang juga konsisten membela teologi-teosofi Islam. Pun, berupaya membongkar dua perspektif dialog sedemikian rupa secara komunikatif tentang bagaimana Tuhan dan alam diperbincangkan dalam dua sisi: teologis dan filosofis.
Buku ini, sebagai klaim penulisnya, berupaya untuk mendialogkan alur pemikiran Ibnu Sina yang konsisten bergelur dalam ranah filsafat dan al-Ghazali, dengan gelar terhormatnya sebagai Hujjah al-Islam, yang juga konsisten membela teologi ...