Sang Gubernur Jenderal
Jan Pieterszqon Coen berdiri di atas tembok sambil mengawasi sektor-sektor di luar benteng. Katanya: "Pada malam tahun baru 1619 ini, aku berdiri di atas tembok bentengku yang hanya seluas 9000 meter persegi. Catatlah di dalam buku kalian, bahwa tidak lama lagi aku segera meluaskannya lebih besar. Sebagai pembukaan cita-cita itu, malam ini aku memberi tanda!" Dengan tidak disangka-sangka Sang Gubernur Jenderal lalu menyulut meriam yang berada di depannya. Meriam pun menggelegar dengan dahsyatnya! ••• Sultan Agung terns mondar-mandir di Sitinggil. Gigi mengkerot-kerot kegeraman. "O, aku mengerti sekarang. Kumpeni adalah benalunya pulau Jawa. Wijayakrama sudah diusirnya dengan menghasut orang-orang Banten. Orang Banten berhasil dimakan hasutannya dan kerajaan Jayakarta dicaplok. Betawi yang dulu selebar tegalan, lama-lama menjadi kota orang Kumpeni. Dan sekarang si Pitekun ingin mencoba Mataram. Daripada didului, baik aku mendahului. Inilah politik Mataram. Setelah utusanku dihina dengan surat kosong sekarang terimalah pukulanku ! " ••• Dan siapakah Pantle Wulung? Sang Gubernur Jenderal yang baru saja keluar dari tempat kerjanya belum bisa memutuskan ketika tiba-tiba dan dengan cepat sekali seorang yang berkuda dengan keris terhunus menyerangnya.
- Judul : Sang Gubernur Jenderal
- Pengarang : Rahmat Al,
- Kategori : Juvenile Fiction
- Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
- Bahasa : id
- Tahun : 1976
- Halaman : 190
- Google Book : https://play.google.com/store/books/details?id=jC-tDwAAQBAJ&source=gbs_api
-
Ketersediaan :
Sang Gubernur Jenderal yang baru saja keluar dari tempat kerjanya belum bisa memutuskan ketika tiba-tiba dan dengan cepat sekali seorang yang berkuda dengan keris terhunus menyerangnya.