Buku ini adalah jilid kedua dari tafsiran Perumpamaan Tuhan Yesus. Semasa hidupnya di bumi, Tuhan Yesus sering menggunakan perumpamaan untuk menyebarkan kebenaran Allah dan Kerajaan-Nya. Di dalamnya terdapat tujuh perumpamaan yang diajarkan Tuhan Yesus (Pasal 7-13), yang diuraikan dan dibahas secara sederhana oleh Dr. R.A. Jaffray. Ini adalah buku yang penting untuk dibaca karena pelajaran-pelajaran rohani dan penerapan-penerapan praktis yang terkandung di dalamnya sangat bermanfaat bagi kehidupan Anda secara pribadi.
Bagaimana cara menjadi kekasih Allah (waliyullah)? Bagaiamana menyelaraskan antara syariat, tarekat dan hakikat? Buku karya Syekh Nawawi Al-Bantani ini adalah jawabannya. Sebagaimana kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya’ karya Syekh Abu Bakar Syatha (penulis Kitab I’anatut Thalibin syarah kitab Fathul Mu’in), Syekh Nawawi Al-Bantani menulis buku ini juga dimaksudkan untuk menjelaskan nazham (syair) Hidayatul Adzkiya’ ila Thariqil Auliya’ yang ditulis oleh Syekh Zainuddin Al-Malibari. Dari sini tampak jelas bahwa Syekh Nawawi Al-Bantani adalah ulama kaliber dunia. Ulama asal Serang, Banten ini dijuluki sebagai Sayyidu Ulama Al-Hijaz (pemimpin para ulama kota Hijaz) dan Sayyidu Ulama Al-Haramain (pemimpin para ulama dua kota suci Makkah dan Madinah). Karya-karyanya meliputi banyak bidang keilmuan mulai dari tafsir, hadits, gramatikal bahasa arab (nahwu sharaf), fiqih, akidah, tasawuf, hingga sejarah. Dalam bukunya ini, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan jalan yang ditempuh oleh para waliyullah. Nazham Hidayatul Adzkiya’ ila Thariqil Auliya’ karya Syekh Zainuddin Al-Malibari hanya menyebutkan jalan-jalan yang ditempuh oleh para kekasih Allah tanpa menjelaskannya karena sifatnya yang memang syair. Syekh Nawawi dalam bukunya ini menjelaskan jalan-jalan tersebut secara gamblang baik dari segi gramatikal bahasa arab (nahwu sharaf) maupun dalil-dalil Al-Quran, hadits dan pendapat para ulama yang menjadi dasarnya. Apa saja jalan-jalan yang ditempuh para ulama agar bisa mencapai derajat waliyullah dan meraih mutiara hakikat? Dapatkan jawabannya di buku ini.
... Nabi berasal dari Khadijah kecuali Ibrahim , yang berasal dari Ummul Mukminin Mariyah Al - Qibthiyyah . Perkataan penulis Shahbi ( beserta sahabat ) dibaca dengan sukun pada huruf Ain dan fathah pada huruf Shad , meskipun boleh juga ...
Islam melalui Al-Quran beberapa kali menjelaskan perihal seksualitas. Yaitu relasi seksual sebagai suami-istri. Antara lain disebutkan dalam Al-Quran seperti perkawinan, perceraian, perlakuan suami-istri dalam kehidupan rumah tangga (muasyarah bil ma’ruf), iddah, dan beberapa kasus penyimpangan seksual seperti kaum Nabi Luth. Seksualitas adalah fitrah manusia, yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan dan harus dimanage dengan sebaik-baiknya dan dengan cara yang sesehat-sehatnya. Islam menyebut seksualitas sebagai anugerah Tuhan yang perlu dipenuhi sepanjang manusia membutuhkannya. Bahkan dalam riwayat Hadis, perilaku seks yang baik dan benar mendapat pahala. Seperti yang disebutkan oleh Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Salah seorang sahabat Nabi pernah bertanya: Wahai Rasulullah, apakah jika di antara kami menyalurkan hasrat biologisnya (bersetubuh) juga mendapat pahala? Beliau menjawab, "Bukankah jika ia menyalurkan pada yang haram itu berdosa? Maka demikian pula apabila ia menyalurkan pada yang halal, maka ia juga akan mendapatkan pahala.’” Oleh sebab itu, seks (berhubungan badan) dalam Islam hanya dibolehkan dalam ikatan yang halal yaitu pernikahan. Sehingga bagi seseorang yang mempunyai hasrat seks kuat dan kesiapan nafkah dianjurkan untuk menikah. Pun, jika tidak mampu untuk menikah Islam memberikan solusi untuk mengontrol hasrat, salah satunya dengan berpuasa. Imam Jalaluddin As-Suyuthi sebagai salah satu ulama terkemuka dalam dunia Islam mengarang kitab ini tidak sekedar memberikan bimbingan teknis terkait berhubungan intim (seks) dengan suami atau istri. Melainkan mendahuluinya dengan definisi cinta, kemudian tanda-tanda cinta, lalu gambaran seorang kekasih, dan memungkasinya dengan keutamaan berhubungan intim dalam rangka mempertahankan cinta.
Imam Jalaluddin As-Suyuthi sebagai salah satu ulama terkemuka dalam dunia Islam mengarang kitab ini tidak sekedar memberikan bimbingan teknis terkait berhubungan intim (seks) dengan suami atau istri.