Sebanyak 4 item atau buku ditemukan

Phaedrus

Dialog tentang Cinta, Kematian, Takdir, dan Arti Menjadi Manusia

Dialog ini secara normal terbagi menjadi tiga bagian, yang masing-masing sesuai dengan karakter Gorgias, Polus, dan Callicles; dan bentuk serta caranya berubah seiring dengan tahapan argumen. Socrates bersikap hormat kepada Gorgias, menyenangkan namun tajam dalam menghadapi Polus yang masih muda, ironis dan sarkastik dalam pertemuannya dengan Callicles. Seperti dalam dialog-dialog lainnya, dalam dialog ini Socrates adalah musuh kaum Sofis dan ahli retorika; dan juga para negarawan, yang ia anggap sebagai bentuk lain dari jenis yang sama. Perilakunya diatur oleh perilaku lawan-lawannya; keangkuhan atau keegoisan di pihak mereka ditanggapi dengan ironi yang sama di pihak Socrates. Dalam Phaedrus kita menemukan pula mitos lain ciptaan Plato. Mitos ini membahas kehidupan lampau. Ia menggambarkan konflik antara akal budi yang dibantu oleh nafsu atau kemarahan yang benar di satu sisi, dan konflik antara nafsu dan naluri hewani di sisi lain. Jiwa manusia telah mengikuti jejak dewa tertentu dan melihat kebenaran dalam bentuk universal sebelum ia lahir di dunia ini. Kehidupan kita saat ini adalah hasil dari perjuangan yang dilakukan pada saat itu. Dunia ini bersifat relatif terhadap dunia lampau, karena sering kali diproyeksikan ke masa depan. Kita mengajukan pertanyaan “Di manakah manusia sebelum terlahir?” seperti halnya kita bertanya “Apa yang akan terjadi pada manusia setelah kematian?” Pertanyaan pertama tidak begitu lumrah dan karenanya tampak tidak wajar; tetapi jika kita mengamati seluruh umat manusia, pertanyaan ini sama berpengaruh dan tersebar luasnya seperti pertanyaan lainnya. Dalam Phaedrus, pertanyaan ini benar-benar merupakan kiasan yang menggambarkan “pertempuran spiritual” dalam kehidupan saat ini. Pengantar Dalam Phaedrus, Socrates berargumentasi dengan Gorgias, Polus, dan Callicles. Dialog ini secara normal terbagi menjadi tiga bagian. Temanya membentang dari persoalan retorika hingga predestinasi manusia.

Dalam Phaedrus, pertanyaan ini benar-benar merupakan kiasan yang menggambarkan “pertempuran spiritual” dalam kehidupan saat ini. Pengantar Dalam Phaedrus, Socrates berargumentasi dengan Gorgias, Polus, dan Callicles.

Kesunyian Melahirkanku sebagai Lelaki

Puisi-puisi saya dalam antologi ini secara khusus memaktub tema lokalitas, baik itu konstelasi sejarah, mitos, atau objek pariwisata. Lokalitas sebagai dasar penciptaan bukan semata dalam rangka mengagungkan alam sekitar, atau mempromosikan kepada publik agar punya nilai yang layak jual. Lebih dari itu, lokalitas adalah panggung pengindraan yang memunculkan respons intuitif yang lebih sinergis dengan pergulatan teks. Teks yang menuntut penuturan diksi yang metaforis dan alegoris, serta bumbu rima yang koheren akan mudah diwujudkan ketika diserap langsung dari alam sekitar yang bisa diindra. Paduan antara penginderaan secara faktual dengan olah imajinasi biasanya lebih potensial untuk menghadirkan ruh di dalam sebuah puisi, sehingga puisi tercipta bukan semata sebagai kata-kata indah yang memunculkan kenikmatan auditif belaka, namun akan menjadi medium yang menampilkan potret sekaligus artefak antropologis pada zamannya. Itulah yang saya harapkan dari puisi-puisi saya di buku ini. A. Warits Rovi

... penghuni neraka menutup keinginanku untuk mendengar lembut suaramu tapi kuterima sebagai titah cinta kuletakkan sebagai rumpun bunga pada mata batu yang bersusun jadi perigi melingkar sepanjang tubuhku ah, umurku amat tua linggis ...

Tahun-Tahun Cahaya dan Kisah-Kisah Cosmicomic Lainnya

‘Kenikmatan membacanya sepadan dengan risiko melewah ketika menyatakan bahwa kisah-kisah ini adalah sebuah karya sastra yang menantang Book of Genesis … ini adalah sebuah koleksi yang merangsang, ditulis oleh seorang maestro prosa yang jernih, yang mengawinkan pemikiran dengan imajinasi dan mempertontonkan kejembaran hati dan pikiran.’ Joseph Farrell, The Times Literary Supplement ‘Kisah-kisah lucu dan brilian karangan Italo Calvino menunjukkan penulisnya jauh mendahului zamannya … cerdas, kocak, tajam dan ironi hasil penyulingan gagasan yang murni gemilang’ Ursula K. Le Guin, Guardian ‘Memikat … kaya dan memesona … kisah-kisahnya ringan, tetapi dalam, aneh, tetapi serius, sebuah kelakar yang mengingatkan bahwa hidup adalah permainan belaka’ Allan Massie, Scotsman ‘Sebuah cara memandang kosmos dan sejarah semesta yang jenaka … Serangkaian kisah unik pelintasan yang semarak yang bisa dibaca seperti ketika menikmati kisah-kisah Seribu Satu Malam’ Alan Chadwick, Metro London ‘Semua kisahnya tidak seperti kisah-kisah yang pernah dituliskan siapa pun … Calvino membuat segalanya mungkin bagi pembaca untuk merasakan hidup di nebula, menjadi seekor moluska yang turut mewarnai peradaban, menjadi seekor dinosaurus terakhir yang tersadarkan bahwa kepunahan spesiesnya adalah sebuah lelaku kesatria; menjadi saksi pertama semburat cahaya pada sebuah semesta yang tadinya gelap gulita’ Gore Vidal, New York Review of Books

... purnama, atau bahkan sedikit melengkung ke arah langit, sekarang tampak lemas, merosot, seolah magnet bulan tidak lagi mencobakan kekuatan penuhnya. Dan cahayanya juga, tidak sama seperti bulan-bulan purnama lainnya; bayangbayang malam ...