Seorang “Audy” yang terkenal tangguh dari kecilnya, menjadi tidak berdaya ketika bertemu dengan Tommy yang memanjakannya. membuat nya menjadi seorang putri, semua di turuti walaupun tahu keputusan yang diambil salah. Audy berjuang mengatasi kelemahannya dalam menghadapi kecemasan sebagai ibu yang melahirkan. Tommy sesosok lelaki yang begitu memanjakan istri dan anak-anaknya. "Family Man" julukkannya. Mottonya hanya satu "yang penting bisa kumpul bersama keluarga.” Lelaki yang setia, "aku tetap mencintaimu apa adanya, yang penting kita tetap bersama selamanya.” Bertahankah dengan 10 tahun penantian menunggu buah hatinya?
Audy berjuang mengatasi kelemahannya dalam menghadapi kecemasan sebagai ibu yang melahirkan. Tommy sesosok lelaki yang begitu memanjakan istri dan anak-anaknya. "Family Man" julukkannya.
After my first anthology published last June I started working on my next. during lockdown I was pushed back from editing so now publishing my second anthology.
After my first anthology published last June I started working on my next. during lockdown I was pushed back from editing so now publishing my second anthology.
The This is Me journal provides a semi-structured space for personal discovery and self-exploration. Each page is titled with a different topic or question to encourage self exploration. Below each title the rest of the page is left blank providing space for you to explore your thoughts, feelings and ideas on that topic or question. This can be done in the form of collages/art/stickers etc or by simply using mind-maps and lists depending entirely on your personal preference. The simplicity of the questions within these pages mean that it can be beneficial to people of all ages. The journal also works brilliantly as a therapeutic tool and is compatible with many different therapeutic models. This is Me can help in the visualising of the individual's unique self and can be helpful in reflecting the personal change and development that often comes about through therapeutic work.
Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan pengideraan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realitas nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama. Inilah pemikiran fundamental Tan Malaka yang melandasi pergerakannya dengan melihat suasana politik Indonesia. Soekarno adalah penggemar teori-teori Tan Malaka, begitu dengan semua pejuang pergerakan di awal kemerdekaan Indonesia. Ia mendasari orasi-orasinya dengan logika yang sama. Keduanya bisa dinobatkan sebagai negarawan yang berjuang dengan modelnya sendiri. Keduanya melawan dengan caranya masing-masing. Keduanya pernah diasingkan, bahkan bagi Tan Malaka, penjara bisa saja disebut sebagai rumah kedua. Namun, politik tetaplah politik. Banyak tragedi yang menggeliat dan harus terjadi. Keduanya dikenanag dengan cara yang berbeda. Kini, waktunya mengenang kembali perjuangan dua tokoh bangsa ini dalam sebuah buku yang sama.
... Malaka memberikan pandangan- pandangan mengenai Republik Indonesia yang baru diproklamasikan tahun 1945. Akan tetapi, Achmad Sobardjo baru menyadari kalau tamu yang memberi wejangan adalah Tan Malaka yakni setelah Tan Malaka pergi ...
Peta ideologi umat Islam dalam perhelatan pilpres 2019 terpolarisasi menjadi tiga kelompk, yaitu memilih basis agama, memilih dengan basis kompetensi, dan memilih secara apatis-pragmatis. Pada kelompok pertama lebih didominasi oleh pesantren-pesantren salafiyah-tradisional, pada kelompok kedua oleh pesantren modern. Sedangkan untuk kelompok ketiga lebih banyak didominasi oleh pesantren salafiyah-tradisional, terutama yang berdomisili di perdesaan. Secara umum dapat dikatakan bahwa, pilihan dan peta umat Islam dalam bingkai demokrasi masih dipengaruhi oleh pilihan-pilihan politik yang cenderung pragmatis. Sedangkan bagi kelompok kedua, beranggapan bahwa demokrasi berasal dari Barat dan tidak dikenal dalam dunia Islam. Oleh karena itu demokrasi harus ditolak. Ketika demokrasi dimaknai pemberian suara orang per orang dalam pilpres misalnya, maka suara orang saleh akan sana nilainya dengan orang yang tidak saleh. Dalam pandangan mereka, sistem demokrasione man one vote tidak sesuai dengan politik luhur Islam.
Peta ideologi umat Islam dalam perhelatan pilpres 2019 terpolarisasi menjadi tiga kelompk, yaitu memilih basis agama, memilih dengan basis kompetensi, dan memilih secara apatis-pragmatis.