Sebanyak 26322 item atau buku ditemukan

Wasiat Auliya`; Kisah Dan Kearifan Hidup Para Kekasih Allah

Seorang lelaki bertanya kepada Dzûn-Nûn al-Mishrî tentang keadaannya. Ia menjawab: Bagiku, tidak ada keadaan yang kuridai dan tidak ada pula keadaan yang tak kuridai. Bagaimana aku dapat meridai keadaanku untuk diriku sendiri, sedangkan aku tidak bisa memenuhi apa yang Dia kehendaki dariku? Bagaimana pula aku dapat tidak meridai keadaanku, sedangkan tidak terjadi suatu keadaan pada diriku kecuali keadaan yang Dia kehendaki? Aku tidak tahu manakah yang lebih baik: baiknya ahwalku dalam kebaikan perbuatan baik-Nya kepadaku atau baiknya ahwalku dalam keadaan burukku ketika keadaan buruk itu yang dipilihkan untukku? Alangkah indahnya perkataan itu! Yang mengatakannya adalah orang yang cinta kepada Allah dan sibuk dengan-Nya, menyerahkan kendali dirinya kepada Allah dan rida kepada-Nya dalam segala keadaannya, serta [teguh] berdiri di hadapan Allah Swt. Ia selalu merenungkan keindahan perbuatan-perbuatan-Nya, sehing ga dirinya pun menciut. Ia menjadi tidak rida dan tidak pula murka terhadap seluruh keadaannya. Dirinya telah luruh dalam keridaan kepada Tuhannya. Demikian karena baik dalam keadaan taat maupun dalam keadaan maksiat, dirinya selalu menunaikan hak Allah. ia ridai semen Keadaan taat, bagaimana mungkin tara keadaan taatnya pasti berkekurangan?! Keadaan maksiat, bagaimana mungkin ia murkai sedangkan keadaan maksiat itu merupakan pilihan Allah untuknya?! Kalau begitu, yang terbaik adalah berserah diri dan rida serta beristigfar dan memuji-Nya. Menghayati perjalanan hidup, karakter, dan kesucian-hati orang-orang saleh merupakan salah satu penghayatan terbaik yang mampu mengukuhkan cita-cita dan menanamkan cinta pada kebaikan. Buku ini berisi 89 pelajaran hidup dari 61 orang arif lintas negeri dan masa, yang dengan menyebut nama mereka saja, rahmat terharapkan. "Ketika orang-orang saleh disebut, bercucuranlah rahmat-rahmat," tutur para ulama dahulu. Lalu, bagaimana jika kita membaca berbagai kearifan, petuah, dan cahaya mereka yang turun dengan deras kepada kita? Kisah para wali yang memperlihatkan akhlak mereka dan keutamaan yang mengantar mereka menjadi kekasih Allah itu tak lain dimaksudkan untuk menghangatkan cinta kepada mereka dan cinta untuk mengikuti mereka. Karena itulah ulama salaf Sufyan al-Tsauri biasa berkata, "Bila kami tidak termasuk orang saleh, sungguh kami ini mencintai orang-orang saleh."

Seorang lelaki bertanya kepada Dzûn-Nûn al-Mishrî tentang keadaannya.

Ilmul Auliya

Imam al-Tirmidzî menyelamatkan kita dari berhenti di permukaan dan mengajak kita menyelami dimensi batin agama. Kita diajak untuk menjelajah. Tepatnya, kita tidak hanya diminta untuk membaca, tapi kita juga diminta untuk merasakannya. Diterjemahkan dari kitab klasik yang langka, buku ini mencakup dua tema pokok: pertama, membahas makna shalawat Allah untuk hamba-hamba-Nya, rahmat-Nya kepada mereka, kecintaan-Nya kepada mereka, kedekatan-Nya dengan mereka, dan pengenalan diri-Nya kepada mereka supaya mereka mengenal-Nya. Ini semua merupakan kebaikan Allah kepada semua makhluk-Nya. Karena itu, mereka wajib membalas kebaikan-Nya itu sebagai tanda terima kasih dan keikhlasan kepada-Nya. Kedua, mengupas hakikat sabar, syukur, pujian, tasbih, istighfar, shalat, tobat, serta segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah seorang hamba kepada Penciptanya. Kita juga akan melihat bagaimana aspek-aspek ibadah ini menjadi jalan untuk memperoleh rahmat dan kasih-sayang Allah serta jalan bagi tercapainya pertolongan dan perlindungan-Nya. Selain mengacu pada Al-Qur’an dan sunnah, setiap uraian senantiasa diselingi analisis bahasa dan perumpamaan yang memudahkan. Selamat meningkatkan kualitas iman dengan meningkatkan pengetahuan dan kearifan bersama pakarnya.

Imam al-Tirmidzî menyelamatkan kita dari berhenti di permukaan dan mengajak kita menyelami dimensi batin agama.