Tafsir Wakhowatirul Imaniyah
Tafsir Quran
Profil penulis
3.545 karya publik ditemukan.
Tafsir Quran
Tafsir Quran
Kemampuan menafsirkan "ayat-ayat pendidikan" ini diajarkan di seluruh Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) dan di Perguruan Tinggi Agama Islam pada umumnya. Bidang studi Tafsir Ayat-ayat Pendidikan ini merupakan matakuliah yang diwajibkan untuk rnahasiswa Fakultas Tarbiyah/Fakultas Pendidikan. Namun disadari, ketersediaan literatur/referensi berbahasa Indonesia untuk matakuliah Tafsir Ayat-ayat Pendidikan ini masih tergolong langka. *** Persembahan penerbit Kencana (PrenadaMedia)
Semua yang bermaksud menggali makna-makna Al-Quran, memulai upayanya dengan mempelajari kosakatanya. Dahulu para ulama sering kali merujuk ke syair jahiliah untuk memahami kosakata Al- Quran. Ini kemudian berkembang dengan memahaminya melalui analisa makna dasar dari susunan huruf-huruf yang terhimpun oleh satu kata, lalu ini pun berkembang dengan menghimpun ayat-ayat yang menggunakan akar kata yang sama lalu menarik makna yang dimaksud oleh Al-Quran. Buku yang di tangan pembaca ini berusaha menghidangkan secara sederhana dan dengan amat terbatas salah satu corak penafsiran Al-Quran yakni corak bayâni dengan menekankan pembahasannya tentang muatan kosakata dan perbedaan-perbedaan susunan satu kalimat dengan kalimat yang lain yang sepintas diduga sepenuhnya sama.
Pengaruh sihir memang ada! Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam sendiri pernah terkena pengaruh sihir. Dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah pernah disihir oleh seorang Yahudi bernama Labid bin Al-A'sham! Namun jangan panik , allah telah menurunkan doa perlindunganyaitu surat Al-Falaq.
Criticism on Islamic state in Indonesia.
Javanese cultural values in the Koran intepretation of Bakri Syahid's work, an Indonesian muslim scholar.
Comparative study of Koranic interpretations in Indonesia.
Commentary on the Koran.
Seorang K.H. Dja’far Sabran dikenal sebagai tokoh ulama Masyhur di Kalimantan Timur. Beliau merupakan pendakwah yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, beliau memiliki pengetahuan yang luas baik dalam bidang agama maupun dunia. Banyak pemikiran beliau mengenai konsep kehidupan baik mengenai ibadah maupun akhlak yang beliau sampaikan melalui kegiatan pengajian rutin secara lisan maupun tulisan beliau di dalam kitab-kitabnya. Beliau juga banyak mengemukakan pemikiran beliau mengenai akhlak atau adab terpuji, salah satunya adalah tawakal. Menurut beliau tawakal merupakan adab seorang hamba yang menyikapi seluruh urusan kehidupan dengan melakukan usaha/ikhtiar dengan cara yang ma’ruf dan sesuai kemampuan kemudian menyerahkan seluruh urusan kehidupan tersebut hanya kepada Allah, merasa semuanya dari Allah dan karena Allah, sehingga semua yang terjadi pada dirinya diyakini mengandung hikmah.
Di antara keistimewaan Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Allah swt kepada Nabi Muhammad Sa, yakni rangkaian satu-kesatuan yang bersifat utuh dan menyeluruh (jami’-mani’; intact-comprehensive) serta kekhasan masing-masing surat-suratnya. Termasuk surah Al-Mâ’idah [5] yang memiliki sejumlah kelebihan (fadha’il). Salah satunya berkenaan dengan khitab (arah pembicaraan) dan khitahnya yang lebih spesifik ditujukan kepada orang-orang beriman. Mulai dari tuntunan hubungan vertikal manusia dengan Allah swtdan hubungan horizontal dengan sesama manusia, hingga hubungan lingkungan alam sekitar bahkan semesta. Tidak hanya tentang hukum keluarga dengan segala aspeknya, akan tetapi juga ihwal hukum muamalah yang benar-benar lengkap dan sempurna. Semuanya ada landasan hukumnya di dalam surah Al-Mâ’idah. “Serial Tafsir Al-Amîn Bedah Surah Al-Mâ’idah” yang berada di tangan pembaca menyuguhkan penjelasan surah Al-Mâ’idah (bagian pertama) ini dengan gayanya yang khas menggunakan pendekatan metode tafsir dialogis (tafsir mukalamah). Bagaimana persisnya, mari kita baca buku ini dengan saksama. Kiranya dapat memberikan pencerahan. Aamiin, semoga!
Marah
Diskusi Ilmu Pengetahuan
This volume features chapters by international experts in education, sociology, and theology who consider a range of challenges faced by educators in primary and secondary schools that are becoming increasingly diverse in terms of the ethnic and religious backgrounds of pupils. From the non-religious, to the refugee, to student fundamentalism and even radicalization—these multiple, fresh approaches analyze the dynamics of the changing pedagogical landscape in an age of ever increasing globalization and cultural plurality. Today’s classrooms are often the most crucial spaces where children and adolescents encounter new cultural, religious, and other worldviews. Increasingly, teachers are called on to empower their pupils with the tools and competencies necessary to reflect on and process this plurality in ways that are productive for their intellectual growth and moral maturation. Regional case studies provide extensive data while offering insights into developments in school settings across Europe, in Turkey, and in the United States. In addition, a number of the contributions address the delivery, content, and policies of Islamic Religious Education in European contexts, the educational strategies employed in multi-religious societies, and interreligious dialogue in schools, whether intentional or spontaneous.
Religious extremism among students in major campuses in Indonesia remains a problem for the Indonesian government, campus authorities and moderate Muslims. A substantial number of studies on Islam and religious extremism in Indonesia have focused on security and cultural paradigms. In contrast, this article discusses the factors that cause the rise of religious extremism among university students through an organizational and institutional lens. The dissemination and internalization of religious extremist narratives contribute to the rise of religious extremism among university students in Indonesia. Counter-extremism policies by the government and campus authorities have not been effective due to the absence of an integrative approach. All stakeholders—the government, campus authorities, parents of university students, communities and student organizations—need to establish a concerted and integrative effort to uproot religious extremism from among university students.
In this volume of essays, Howard Wettstein explores the foundations of religious commitment. His orientation is broadly naturalistic, but not in the mode of reductionism or eliminativism. This collection explores questions of broad religious interest, but does so through a focus on the author's religious tradition, Judaism. Among the issues explored are the nature and role of awe, ritual, doctrine, religious experience; the distinction between belief and faith; problems of evil and suffering with special attention to the Book of Job and to the Akedah, the biblical story of the binding of Isaac; the virtue of forgiveness. One of the book's highlights is its literary (as opposed to philosophical) approach to theology that at the same time makes room for philosophical exploration of religion. Another is Wettstein's rejection of the usual picture that sees religious life as sitting atop a distinctive metaphysical foundation, one that stands in need of epistemological justification.